Selalu Ada Tangis dan Tawa Dalam Cerita Kehidupan



Sabtu, 30 Juni 2018 lalu sekumpulan perempuan yang difasilitasi serta dalam acara table talk Cewequat bertajuk Wounded Heart : What Does Trauma of Abuse Do To The Human’s Heart? berbagi kisah dan memberikan aspirasi mereka terkait pelecehan dalam berbagai bentuk. Table talk yang penulis fasilitasi ini dimulai pada pk 11.00 dan bertempat di Plaza Semanggi, Jakarta. Meski ini adalah table talk perdana bagi penulis, namun penulis sangat senang dapat menjadi fasilitator bagi para peserta yang sangat antusias mengikuti acara.


Penulis memulai sesi pengenalan tentang komunitas Cewequat dan juga mengenai program Cewequat Sisterhood. Kebetulan sekali, pada table talk kali ini dihadiri salah satu peserta yang juga sudah mengikuti seleksi program Cewequat Sisterhood. Sebelum memasuki sesi ice breaking, penulis menjelaskan bahwa dalam sesi ini diharapkan agar para peserta saling mendengarkan tanpa menghakimi melainkan menggunakan empati pada para peserta lainnya.

Antusiasme para peserta terlihat dari tidak ada waktu jeda dan kebisuan panjang untuk menjawab pertanyaan ataupun membuka obrolan di sesi sharing.

Berbagai kisah yang dipaparkan oleh para peserta rata-rata terjadi bertahun-tahun lampau dan sudah menjadi luka di hati yang sangat membekas. Ada beberapa faktor yang menciptakan kondisi tersebut, namun faktor yang paling dominan dalam hal ini adalah lingkungan dimana mereka semua bertumbuh. 

Seringkali luka itu muncul akibat pelecehan secara verbal. Beberapa peserta mengakui bahwa mengalami bullying karena fisik dan juga tingkah laku. Pada saat peserta melakukan sharing mengenai sesi ini, terdapat tawa dan tangis dalam kisah masa lalu yang mereka sampaikan. Bahkan dari trauma-trauma tersebut membentuk beberapa peserta menjadi memiliki pandangan dan keengganan tertentu terhadap sesuatu (contoh: tidak mau bergaul dengan ras tertentu, malas berkumpul bersama keluarga, sulit memulai pembicaraan dengan sesama sehingga menjadi sangat pendiam).




Pada sesi sharing, seakan seperti benang yang tidak terputus. Kisah demi kisah dipaparkan oleh peserta. Hingga akhirnya di ujung acara, penulis sebagai fasilitator menyelesaikan sesi sharing dengan sharing question. Acara ini diakhiri dengan masing-masing peserta memasukkan pertanyaan ke dalam toples untuk dijawab oleh sesama peserta lain. Penulis mendengarkan dengan seksama dan merasa bahwa keberadaan komunitas yang berisi para perempuan dan memberi semangat serta dukungan positif memang sangat diperlukan. Sebab terkadang, justru sesama perempuan malah yang menyakiti, tidak menghormati hak sesama perempuan dan kurang mendukung satu sama lain.


Sesuai kesan dan pesan yang disampaikan peserta di akhir acara bahwa waktu mereka dihabiskan dengan baik dalam acara table talk ini. Bagi penulis secara pribadi, dengan setulus hati meski sebagai fasilitator masih banyak kekurangan, namun penulis berharap bahwa para perempuan yang hadir sebagai peserta dapat merasakan manfaat dan juga merasa senang dapat berbagi. Selain itu, penulis berharap agar dari table talk ini akan hadir perempuan lainnya yang ikut tergugah untuk menjadi pendukung sesama perempuan lainnya. Mungkin luka di hati tidak dapat sembuh dalam 1-2 jam atau bahkan hari dan tahun. Tapi ingatlah, bahwa diriku, dirimu dan mereka di masa lalu sudah tidak ada. Jadi tidak ada lagi yang perlu dimaafkan, disesali atau diingat. Melainkan melanjutkan hari-hari dan membuat kisah hidup yang baru. 

Oleh karena itu, penulis mengajak para pembaca untuk ambil bagian dalam program Cewequat.



With love;
Devi Oey

Comments

Popular posts from this blog

Masa Lalu, Keluarga, dan Genogram

Euforia yang Tidak Berakhir